Sifilis
adalah salah satu penyakit menular seksual. Penyakit tersebut ditularkan
melalui hubungan seksual, penyakit ini bersifat Laten atau dapat kambuh lagi
sewaktu-waktu selain itu bisa bersifat akut dan kronis. Penyakit ini dapat cepat
diobati bila sudah dapat dideteksi sejak dini. Kuman yang dapat menyebabkan
penyakit sifilis dapat memasuki tubuh dengan menembus selaput lendir yang
normal dan mampu menembus plasenta sehingga dapat menginfeksi janin (Soedarto,
1998).
B. Etiologi
Sifilis
disebabkan oleh Treponema Pallidum. Treponema Pallidum termasuk
ordo Spirochaeta, famili Treponemetoceae yang berbentuk seperti
spiral dengan panjang antara 5- 20 mikron dan lebar 0,1- 0,2 mikron, mudah
dilihat dengan mikroskop lapangan gelap akan nampak seperti spiral yang bisa
melakukan gerakan seperti rotasi. Organisme ini bersifat anaerob mudah
dimatikan oleh sabun, oksigen, sapranin, bahkan oleh Aquades. Didalam darah
donor yang disimpan dalam lemari es Treponema Pallidum akan mati dalam
waktu tiga hari tetapi dapat ditularkan melalui tranfusi mengunakan darah segar
(Soedarto, 1990). Sifilis ini juga dapat menular melalui
hubungan seksual dengan penderita sifilis. Kontak kilit dengan lesi yang
mengandung T. pallidum juga akan menularkan penyakit sifilis.
C. Manifestasi Klinis
1. Sifilis primer
Berlangsung selama 10 - 90 hari sesudah
infeksi ditandai oleh Chancre sifilis dan adenitis regional. Papula tidak
nyeri tampak pada tempat sesudah masuknya Treponema pallidum.
Papula segera berkembang menjadi ulkus bersih, tidak nyeri dengan tepi menonjol
yang disebut chancre. Infeksinya sebagai lesi primer akan terlihat
ulserasi (chancre) yang soliter, tidak nyeri, mengeras, dan terutama terdapat
di daerah genitalia disertai dengan pembesaran kelenjar regional yang tidak
nyeri. Chancre biasanya pada genitalia berisi Treponema pallidum yang hidup dan
sangat menular, chancre extragenitalia dapat juga ditemukan pada tempat
masuknya sifilis primer. Chancre biasanya bisa sembuh dengan sendirinya dalam 4
– 6 minggu dan setelah sembuh menimbulkan jaringan parut. Penderita yang tidak
diobati infeksinya berkembang ke manifestasi sifilis sekunder.
2 . Sifilis Sekunder
Terjadi sifilis sekunder, 2–10 minggu
setelah chancre sembuh. Manifestasi sifilis sekunder terkait dengan spiroketa
dan meliputi ruam, mukola papuler non pruritus, yang dapat terjadi diseluruh
tubuh yang meliputi telapak tangan dan telapak kaki; Lesi pustuler dapat juga
berkembang pada daerah yang lembab di sekitar anus dan vagina, terjadi
kondilomata lata (plak seperti veruka, abu–abu putih sampai eritematosa). Dan
plak putih disebut (Mukous patkes) dapat ditemukan pada membran
mukosa, gejala yang ditimbulkan dari sifilis sekunder adalah penyakit
seperti flu seperti demam ringan, nyeri kepala, malaise, anoreksia, penurunan
berat badan, nyeri tenggorokan, mialgia, dan artralgia serta limfadenopati
menyeluruh sering ada. Manifestasi ginjal, hati, dan mata dapat ditemukan juga,
meningitis terjadi 30% penderita. Sifilis sekunder dimanifestasikan oleh
pleositosis dan kenaikan cairan protein serebrospinal (CSS), tetapi
penderita tidak dapat menunjukkan gejala neurologis sifilis laten.
D. Relapsing sifilis.
Kekambuhan penyakit sifilis terjadi
karena pengobatan yang tidak tepat dosis dan jenisnya. Pada waktu terjadi
kekambuhan gejala – gejala klinik dapat timbul kembali, tetapi mungkin juga
tanpa gejala hanya perubahan serologinya yaitu dari reaksi STS (Serologis
Test for Syfilis) yang negatif menjadi positif. Gejala yang timbul kembali
sama dengan gejala klinik pada stadium sifilis sekunder. Relapsing sifilis yang
ada terdiri dari :
a.
Sifilis laten
Fase tenang yang terdapat antara
hilangnya gejala klinik sifilis sekunder dan tersier, ini berlangsung selama 1
tahun pertama masa laten (laten awal). Tidak terjadi kekambuhan sesudah tahun
pertama disertai sifilis lambat yang tidak mungkin bergejala. Sifilis
laten yang infektif dapat ditularkan selama 4 tahun pertama sedang sifilis
laten yang tidak menular berlangsung setelah 4 tahun tersebut. Sifilis laten
selama berlangsung tidak dijumpai gejala klinik hanya reaksi STS positif.
b.
Sifilis tersier
Sifilis lanjut ini dapat terjadi
bertahun – tahun sejak sesudah gejala sekunder menghilang. Pada stadium ini
penderita dapat mulai menunjukkan manifestasi penyakit tersier yang meliputi
neurologis, kardiovaskuler dan lesi gummatosa, pada kulit dapat terjadi lesi
berupa nodul, noduloulseratif atau gumma. Gumma selain mengenai kulit dapat
mengenai semua bagian tubuh sehingga dapat terjadi aneurisma aorta,
insufisiensi aorta, aortitis dan kelainan pada susunan syaraf pusat
(neurosifilis ).
c.
Sifilis kongenital
Sifilis kongenital yang terjadi akibat
penularan dari ibu hamil yang menderita sifilis kepada anaknya melalui
plasenta. Ibu hamil dengan sifilis dengan pengobatan tidak tepat atau tidak
diobati akan mengakibatkan sifilis kongenital pada bayinya. Infeksi intrauterin
dengan sifilis mengakibatkan anak lahir mati, infantille congenital sifilis
atau sifilis timbul sesudah anak menjadi besar dan bahkan sesudah dewasa. Pada
infantil kongenital sifilis bayi mempunyai lesi – lesi mukokutan. Kondiloma,
pelunakan tulang – tulang panjang, paralisis dan rinitis yang persisten.
Sedangkan jika sifilis timbul sesudah anak menjadi besar atau dewasa maka
kelainan yang timbul pada umumnya menyangkut susunan syaraf pusat misalnya
parasis atau tabes, atrofi nervous optikus dan tuli akibat kelainan syaraf
nervous kedelapan, juga interstitial keratitis, stig mata tulang dan
gigi, saddel – nose, saber shin ( tulang kering terbentuk seperti pedang ) dan
kadang – kadang gigi Hutchinson dapat dijumpai. Prognosis sifilis kongenital
tergantung beratnya infeksi tetapi kelainan yang sudah terjadi akibat
neurosifilis biasanya sudah bisa disembuhkan. (Soedarto, 1990).
E. PENATALAKSANAAN
Penderita sifilis diberi
antibiotik penisilin (paling efektif). Bagi yang alergi penisillin diberikan
tetrasiklin 4×500 mg/hr, atau eritromisin 4×500 mg/hr, atau doksisiklin 2×100
mg/hr. Lama pengobatan 15 hari bagi S I & S II dan 30 hari untuk stadium
laten. Eritromisin diberikan bagi ibu hamil, efektifitas meragukan. Doksisiklin
memiliki tingkat absorbsi lebih baik dari tetrasiklin yaitu 90-100%, sedangkan
tetrasiklin hanya 60-80%.
Obat lain adalah golongan
sefalosporin, misalnya sefaleksin 4×500 mg/hr selama 15 hari, Sefaloridin
memberi hasil baik pada sifilis dini, Azitromisin dapat digunakan untuk S I dan
S II.
DAFTAR PUSTAKA
Susanto, R Clevere. Dkk. Penyakit Kulit dan
Kelamin. Nuha Medika. 2013







0 komentar:
Posting Komentar